Kamis, 03 Maret 2011

Why Do I Want To Be A Doctor?

Suatu ketika, sekumpulan anak-anak ditanya oleh beberapa orang tua, “Kalau sudah besar mau menjadi apa?” Hampir semua jawaban nyaris bisa ditebak. Sebagian besar menjawab, “mau menjadi dokter.” Dengan mantab dan wajah penuh keluguan. Pilihan lainnya adalah pilot, arsitek, guru dan banyak profesi lainnya.

Ada beberapa alasan sederhana ketika mereka menjawab itu, tetapi alasan yang utama adalah keinginan untuk menyelamatkan orang. Alasan lain adalah, stigma masyarakat yang mengatakan bahwa dokter merupakan sosok yang kaya, baik hati maupun materi. Secara hati, dokter merupakan perantara kesembuhan seseorang. Secara materi, kehidupan dokter nyaris tak pernah kekurangan, bahkan berlebih.

Akan tetapi, masyarakat hanya memandang seorang dokter di saat dia telah berhasil. Mereka tidak pernah memedulikan perjalanan panjang menjadi seorang dokter. Jas putih yang kita kenakan tidaklah diraih dengan mudah. Hampir sebagian besar pun ada yang mengalami depresi dalam perjalanannya. Dengan tulisan ini, saya ingin membagi cerita bagaimana akhirnya jas putih ini bisa didapatkan dan perjalanan saya meraihnya. Semoga para pembaca dapat mencernanya dan terima kasih pada phemaw, saya, Theo, diberi kesempatan untuk membagi cerita ini.

Pada suatu hari, seorang dokter senior bertanya kepada saya, “Mengapa kamu mau menjadi dokter?”. Sebuah pertanyaan yang simple, dan saya pun spontan menjawab, “Ingin menyelamatkan nyawa orang.” Mengira dosen saya akan bertanya kembali, “Bener bukan disuruh orang tua?” (sebuah lanjutan pertanyaan yang standard di FK mana pun,hehehehe), saya pun sudah menyiapkan jawaban balasannya. Tapi, apa yang dikatakan dosen saya itu di luar perkiraan. Konsulen saya berkata, “Bukan jawaban yang bagus, saya ga bisa lulusin kamu klo ujian sama saya.” Eing-ing-Eing, sebuah kilat menyambar dalam diri saya. Apa hubungannya pertanyaan sepele itu sama hasil ujian saya? Apa jawabannya kurang dramatis atau kurang jujur. Beliau pun akhirnya menyuruh saya merenungkan jawabannya dan kembali ke dia untuk mengakatakannya. Entah kenapa dia menyuruh saya keliling Rumah Sakit untuk merenungkan jawabannya dan malah memberikan saya bebas tugas.

Aneh banget kan? Sebuah pertanyaan simpel yet sering ditanya bisa bikin saya ga lulus? Bahkan sekarang saya sendiri bingung mau kemana saya mencari jawabannya. Keliling rumah sakit? Ide buruk. Diam merenung? Lebih buruk lagi. Jujur saja, saya pengen serius jadi dokter karena nonton film-film kedokteran kaya ER, Scrubs, House, Greys Anatomy and many more. Saya kagum dan ingin melakukan hal yang sama. Tapi alesannya konyol sekali bukan? Jadi tidak saya ucapkan deh.

Akhirnya saya mencari inspirasi di tempat yang sangat berhubungan dengan nyawa, Instalasi Gawat Darurat atau disingkat IGD. Di sinilah para dokter dan perawat bekerja setiap hari menyalurkan tongkat estafet ke dokter lain untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang terancam. Selain itu, mereka juga memberi kesempatan kedua untuk semua manusia untuk hidup.

Setelah dipikir-pikir, pernyataan saya di atas bagus juga bukan? Pasti bisa menjadi jawaban yang diinginkan dosen saya. Dengan langkah pasti, saya pun kemudian mencari Sang Konsulen hendak memberitahukan hal tersebut pada beliau. Akhirnya seorang perawat bilang, “Oh, dr.X ya? Ada tuh di ruang kelas 2a,” Saya pun langsung mengejar beliau ke sana. Tapi disinilah saya mendapat malu bukan main, kenapa? Mari simak cerita ini. Dari kejauhan, saya melihat beliau ada di ruangan dan dengan langkah pasti, saya pun masuk dan langsung berkata kepada beliau.

“Dok, saya tahu jawabannya!”, teriak saya (dokter dan perawat ruangan melihat)

“Saya ingin menjadi orang yang dapat menyelamatkan jiwa-jiwa yang terancam dan juga memberikan mereka kesempatan kedua untuk hidup!, kembali teriak saya.

Tiba-tiba dr. X bilang, “Sebentar, Dek! Waktu kematiannya 13.05 ya, Bu...tolong dicatat.”

Jeleger-duer-duer. Ternyata saya teriak begitu tanpa meihat ini sedang ada apa dan keluarga pasien pun tepat ada di belakang saya. “Hikshiks, mampuslah gue.” (pikir saya dalam hati). Akhirnya, kata-kata yang bisa saya ucapkan kepada mereka hanyalah, “Semoga diberi kesabaran ya, Pak, Bu.” Dan malunya bukan main. dr. X pun menyuruh saya kembali mencari alasan yang lebih baik lagi. Dem Yo!!

Pemberhentian renungan saya yang kedua tentu saja ICU, PICU, NICU yang tidak kalah pentingnya dengan IGD, hanya saja, saya berpikir, “Kayanya gue bakal dapet alesan yang sama deh kalau di sini.” Saya pun mengurungkan niat dan mencari tempat lain. Apakah ruang OK? Ruang VK? Atau bahkan kamar mayat? Yang jelas saat itu saya pun dirundung oleh kebingungan (mana hujan lagi waktu itu, suasananya mendukung banget.

Saat itulah saya melihat dokter favorit saya sedang berjalan sendirian di koridor Rumah Sakit dan spontanitas saya adalah mengikuti beliau, siapa tahu mendapatkan jawaban yang bagus. Saya pun mulai menyapa dan meminta izin kepada beliau untuk ikut visite pasien. Beliau pun mengizinkan dan menerima saya sambil senyum. ( what an angel J )

Ketika mengikuti beliau, saya melihat bagaimana pasien merasa nyaman berbicara dengan beliau, bagaimana mereka bisa terbuka menceritakan semua keluhan tanpa malu-malu. Mungkin pola komunikasi GATHER (yang sudah dibahas di bawah ya di cerita sebelumnya) benar-benar sudah beliau kuasai dan bisa bahu-membahu membantu dan mengobati bersama pasien. “Hmmm....tunggu...sepertinya lampu kepala gue nyala lagi nih.” (begitu pikirku dalam hati). Pasti itu alasan yang cukup bagus untuk dikemukakan.

Saya pun kembali mencari dr.X yang katanya sedang menguji salah seorang teman saya yang masuk ke bagian penyakit dalam ini lebih dulu. Konon kata perawat, dr.X memang suka tanya alesan jadi dokter di akhir ujian, entah apa maksudnya. ByTheWay, teman saya ini cukup pintar, tetapi dia masuk kedokteran karena disuruh orang tuanya. Kira-kira apa jawabannya ya? Saya pun menguping dan benar saja, dr.X pun menanyakan hal yang sama di akhir, dan “Guess what”, jawaban teman saya hanya, “Saya disuruh orang tua, dan setelah saya jalanin, menyenangkan, Dok, makanya saya mau jadi dokter.” Dan dr. X pun menjawab, “Yap, Great answer! Kamu lulus!”. Saya pun bingung dan merasa jawaban yang saya buat sangat konyol.

Akhirnya saya pun kembali merenung, dan di akhir hari itu saya pun dipanggil dr. X untuk memberikan jawabannya. Dengan sedikit ragu dengan jawaban saya yang ada, akhirnya ruangan beliau pun saya masuki.

“Jadi, Teho? Theo kan? Apa jawaban kamu?”, tanya beliau

“Euumphh...saya...jadi dokter....karena...,” entah kenapa suara saya berhenti, bingung mo bicara apa kaya ada corpus alienum menutupi pita suara dan saya udh kaya kepiting rebus penuh keringat. L

“Ayo, jadi apa jawabannya?” kata beliau sambil tersenyum

“Yah, Dok, saya tidak tahu lagi jawabannya, Dok....”

“Semula saya jadi dokter karena kagum dengan film-film kedokteran yang merupakan hal paling konyol jadi alesan, Dok,”

“Selanjutnya saya juga berpikir ingin bisa memberikan kesempatan kedua untuk pasien-pasien agar dapat hidup,”

“Selain itu saya juga ingin bisa bahu-membahu dengan pasien agar dapat mencapai pengobatan yang terbaik untuk mereka.”

“Tapi sekarang saya sendiri bingung, mana jawaban yang terbaik, Dok.”

Sebuah senyum terlempar dari dr.X dan berkata, “Bukannya itu semua yang kamu mau? Yang menjadikan kamu seperti sekarang ini?” Dan entah kenapa itu menjadi jawaban di kepala saya. Saya ingin menjadi dokter karena semua hal yang ada di atas, semua hal itulah yang membuat saya menjadi dokter seperti sekarang ini. Dr.X pun kemudian tersenyum lagi dan ninggalin saya di ruangan sambil menepuk bahu saya, dan dari sanalah saya yakin itu jawaban yang terbaik.

Akhir kata, menurut saya, dalam alasan menjadi dokter, tidak ada jawaban yang lebih baik atau yang lebih buruk. Mengapa? Karena semua itulah yang nantinya akan membina kita menjadi dokter yang seperti apa dan hal tersebutlah yang kemudian harus kita ajarkan ke adik-adik kita. Sejak saat itu, saya pun sangat mengagumi dr.X dan filsafahnya mengenai penting alasan kita menjadi seorang dokter.

Kira-kira itulah cerita saya, semoga kalian menikmatinya (maaf saya kurang pandai bercerita) dan jangan lupa kirimkan cerita menarik kalian ke phemaw.adit@gmail.com untuk dimasukkan dalam blog ini. Mari saling berbagi cerita dan pengalaman kita kepada orang lain dan memberi tahu khalayak ramai mengenai apa yang membuat kita menjadi dokter. Ciaaoo...

Sabtu, 26 Februari 2011

Communication, Emphaty and Me as a Patient

Hai, Phemaw, dan hai semuanya! Saya adalah seorang Koass perempuan yang sebut saja Bunga (nama standard dan bukan nama sebenarnya-red). Sekarang saya ingin sekali bercerita mengenai pengalaman saya menjadi seorang pasien saat menjalani koassistensi di Rumah Sakit pendidikan kami. Jujur saja, saat itu saya dirawat di kelas 2b sehingga masih bisa diperiksa oleh teman-teman saya sendiri dan di sanalah pengalaman saya dimulai dan membuat saya dapat mengintrospeksi diri.

Selama menjalani kepanitraan, kita pasti sering menemui berbagai macam pasien yang berbeda dari tingkat pendidikan, budaya, dan sosioekonomi. Bayangkan ke tiga hal tersebut selalu mempengaruhi kita dalam memeriksa pasien, contohnya :

Percakapan pada pasien dengan tingkat pendidikan, budaya dan sosioekonomi menengah ke atas.
"Permisi, Pak/Bu/Mas/Neng, apa keluhannya?"
"Oh, Appendicitis, mas Koass...Soalnya sakitnya di kanan bawah, saya harus segera dioperasi ya! Soalnya sakiiiit banget! Kalau di sini bisa ga luka operasinya kecil aja? Soalnya di Rumah Sakit X bisa lho.", kata si pasien.
"Hmm....oke coba saya periksa dulu ya.", kata saya dengan terkagum-kagum akan pengetahuan pasien.
"Waduh, maaf ya, No offence, tapi saya mo diperiksa dokter asli aja ya, ga mau Koass kan pengalamannya masih kurang tuh.", jawab si pasien polos (pasien seperti ini memang ada dan live with it, okay?)

Gambaran saya dari percakapan di atas adalah mereka cenderung sombong, tidak menghargai kita dan berusaha mencari penyakit mereka sendiri. Tapi namanya juga Koass, pengalaman kita emang masih kurang.

Sedangkan pada dengan pasien dengan tingkat pendidikan, budaya, dan sosioekonomi menengah ke bawah.
"Punten, Pak/Bu/Mas/Neng, apa keluhannya?", tanyaku sopan
"Ini, Dok, sejak malem tuh rasanya ada sakit di ulu hati saya. Kira-kira kenapa ya, Dok? Sakit maag gitu?", tanya si pasien
"Wah, Saya harus periksa dulu ya, biar pasti, nanti saya konsulkan ke dokter pembimbing saya untuk penanganan lebih lanjut.", kataku santai
"Oh, silahkan, Dok...Terima kasih.", jawab pasien

Gambaran dari percakapan di atas adalah mereka mau menghargai kita dan tidak sombong, tetapi pengetahuan mereka tentang penyakit termasuk kurang, jadi kita harus memberikan penjelasan lebih lanjut agar mereka mengerti. (Jujur saya lebih senang memeriksa pasien seperti ini karena bisa menambah pengalaman)

Dalam dunia kedokteran, komunikasi adalah hal penting dalam membina hubungan yang baik dengan pasien. Komunikasi dimaksudkan untuk membagi pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Bahkan di masyratakat kontemporer saat ini ada asumsi "who can run information, they can run the world" atau "Information is power". Terbukti sudah jika manusia sebagai makhluk sosial memerlukan komunikasi sebagai senjatanya untuk masuk ke kalangan tertentu atau menyerap informasi.

Dalam dunia kedokteran, proses komunikasi dengan pasien dapat digambarkan dengan singkatan GATHER, yaitu :
G-greet/ memberi salam kepada pasien dengan bersahabat
A-ask/ tanyakan kepada pasien mengenai keluhan dan penyakitnya
T-tell/ berikan informasi kepada pasien mengenai penyakitnya
H-help/ bantu pasien dalam memilih pengobatan yang terbaik
E-explain/ jelaskan bagaimana metode pengobatan tersebut hingga pasien mengerti, dan
R-return/ meminta pasien kembali untuk follow-up

Komunikasi di rumah sakit harus didasarkan dengan rasa profesionalitas dan empati. Empati sendiri diartikan sebagai mengerti dan peduli kepada kesulitan yang dialami orang lain (dalam hal ini adalah pasien). Suatu komunikasi yang baik kepada pasien merupakan basis dari yang kita sebut medical ethics dan pusat dari pelatihan kedokteran saat ini.

Sejujurnya, saya sendiri saat menjalani proses kepanitraan itu tidak mengerti dengan jelas apa itu empati, cenderung menyepelekan malah. Hari itu semua berubah, saat itu saya sedang menjalani kepanitraan di bagian THT dan mendadak merasakan nyeri di perut kanan bawah saya, saking nyerinya saya sampai pucat dan kehilangan kesadaran (malu sebenernya cerita ini). teman-teman saya pun kemudian panik dan langsung menggotong saya ke IGD dan diperiksa oleh dokter jaga IGD. Saya pun didiagnosis sebagai Appendicitis acuta dan dirawat di bangsal kelas 2b. Saya pun kemudian dirawat tim oleh dokter spesialis bedah dan spesialis penyakit dalam untuk diobservasi terlebih dahulu karena appendicitisnya belum begitu berat.

Pagi hari di kemudian hari, Dokter spesialis penyakit dalam melakukan visite keliling membawa junior-junior yang baru masuk ke stase penyakit dalam untuk melakukan follow-up. Jujur saja, sekarang saya mengerti lho nasib patung pajangan di museum yang tidak bisa bergerak apalagi berbicara dan sekarang saya sedang mengalaminya. (pernah nonton Scrubs? J.D juga menggambarkan bagaimana rasanya jadi pasien di sana, hihihi)

Dokter spesialis penyakit dalam ini kita sebut saja Diana (bukan nama sebenarnya ya), beliau sangat perhatian kepada semua pasiennya dan tidak pernah bosan visite hingga malam hari. Beliau biasanya datang jam 4-5 pagi dan baru pulang sekitar jam 9 malam. Sangat pintar dalam membina hubungan dengan pasiennya dan berkomunikasi. Saya pun merasa aman, dan tenang ditangani oleh beliau.

Sebaliknya, dokter spesialis bedah yang menangani saya, kita sebut saja dr.Tio adalah seorang yang cukup berumur dan hanya tidak menjelaskan kepada pasien dengan jelas mengenai penyakitnya. Jika dibuat survey di rumah sakit, mungkin 8 dari 10 merasa tidak puas dengan penjelasannya dan 2 sisanya tidak mengerti. Dalam perasaan beliau yang ada mungkin hanya kata "operasi". Tapi untungnya memang selalu ada indikasi, dan mungkin inilah yang disebut kurang berempati.

Hari operasi pun semakin dekat, perasaan dag-dig-dug-duer-duer memenuhi perasaan saya, karena takut dan khawatir. Apalagi, dr. Tio datang dan berkata bahwa operasi saya akan ditangani oleh residen bedahnya untuk menambah pengalaman. Saya mau tidak mau menjawab "iya" karena tidak mendapatkan penjelasan jelas dan tidak berani melawan. Tapi malam hari sebelum operasi semuanya berubah, saat dr. Tio dan residennya melakukan visite, saya pun berteriak, begini :

"DOK!!!!TOLONG, DOK, SAYA MAU SAMA DOKTER AJA DIOPERASINYA!!!!", Oke ga selebay itu tetapi memang saya sedikit berteriak. (terutama dalam hati)

Dr. Tio dan residennya pun kemudian memandangi saya dengan heran, dan rasanya seperti di meja introgasi polisi.

"Oke, Gak masalah ko...kamu takut ya?," Kata dr.Tio
"Eh...Eumm...anu, Dok," jawabku malu
"Gak apa-apa, pasien berhak memilih siapa dokter pelaksananya ko, itu hak pasien, " jawabnya
"Wajar ko kalau kamu takut," sambung beliau menenangkan hati
"Eh, iya, Dok, makasih.."
"Oke, sampe ketemu besok di ruang operasi ya, " kata beliau sambil tersenyum

Hal yang paling tidak bisa saya lupakan adalah bagaimana residen itu memandang saya dengan perasaan kesal. mungkin menurutnya dia sudah menunggu-nunggu untuk mencari pengalaman tetapi pasiennya menolak. Mungkin itulah yang disebut tidak berempati, tidak peduli dengan keinginan pasien tetapi lebih memikirkan pengalaman yang ingin didapatkan.

Hari operasi pun tiba. Dr. Tio menjadi dokter penanggung jawab operasi saya dan luar biasa, di sana dr.Tio begitu perhatian pada saya baik sebelum, saat (anestesi lokal-red, jadi saya sadar), dan sesudah operasi. Para perawat ruang operasi (OK) juga bilang bahwa dr. Tio adalah tipe dokter yang perhatian pada pasiennya. Ternyata beliau selama ini hanya menjelaskan sedikit karena pasien beliau sangat banyak baik di rumah sakit ini dan rumah sakit lain dan tidak ingin melewatkan satu pasien pun.

Dari pengalaman itu, akhirnya saya mengerti apa itu yang namanya komunikasi yang bagus dan empati kepada pasien. Sejak saat itu pun saya mulai belajar dengan baik apa yang namanya empati dan hubungan pasien dengan dokter, karena para pembaca, itulah yang membantu kita dalam bekerja.

PS : Pasien juga adalah manusia, mereka bisa takut atau khawatir akan tindakan yang akan kita lakukan baik setelah mendengar penjelasan dengan jelas atau tidak. Tugas kitalah yang seharusnya menenangkannya dan memberi dukungan kepadanya agar menjadi kuat.

"Whoever the patient, is our duty to give the best to them"

Kiranya itu kisah dan pengalaman saya di rumah sakit, jadi bagaimana cerita kalian? Jangan lupa untuk mengirimkannya ke phemaw.adit@gmail.com agar bisa dipublikasikan ke dalam blog ini dan kita dapat saling berbagi cerita. Thanks buat phemaw yang sudah menyediakan tempat untuk bercerita ini, dan semoga blog ini sukses. Sampai jumpa lagi dicerita selanjutnya.

My Very First Day in Surgical Department

Yes!This is It! (dengan gaya Farrah Quinn memamerkan makanan yang sudah jadi) Inilah stase yang kami tunggu-tunggu. Stase yang dikatakan paling “sacral” diantara semua bagian yang telah kami lewati, bukan karena berhubungan dengan hal-hal ghaib, mistis atau pamali apalagi hantu (sama aja ya) tapi lebih ke arah suatu bagian yang di Fakultas Kedokteran mana pun dikatakan sebagai bagian yang paling sulit dilewati.

Biasanya setiap hari aku selalu terbangun dengan segar dan puas (bahkan saat di bagian OB-GYN sekalipun), tetapi pagi itu aku tidak tidur sama sekali, entah karena terlalu bergembira, atau ada perasaan tegang karena akan masuk bagian bedah dan takut terlambat dan juga aku belum selesai menulis buku tugas,hehehehe. (tapi jujur aja, saya menikmati kok)

Menjadi Koass bedah bagi sebagian orang bisa diibaratkan sebagai masuk ke dunia lain. Kenapa? Karena di sini waktu itu hampir tidak terasa sekali. Terkadang kita harus pergi dari rumah sebelum matahari terbit dan pulang saat matahari sudah tidak tampak lagi. Pagi kita datang dengan kisaran waktu jam 3-4 pagi untuk “sweeping” pasien di semua ruangan yang ada di rumah sakit (tugas sebagai junior), sedangkan untuk pulangnya kami sering sesudah matahari terbenam karena di bagian bedah kami, harus kembali “sweeping” pasien untuk dilaporkan kepada Boss besar kami di bedah dan juga mengerjakan pertanyaan-pertanyaan yang beliau berikan ke buku hijau kami (buku penuh ilmu dan kenangan yang sangat berguna menurutku).

Boss? Yes it is. Di Bagian kami ini, ada seorang dokter senior yet veteran yang sudah sangat terkenal bahkan saat kakakku juga masuk bagian ini. Beliau menurut aku adalah sesosok figure dokter pengajar yang patut ditiru oleh dokter-dokter yang ada. Keras, tetapi bermotivasi mengajar dengan sunggu-sungguh bukan demi saat kami di bedah tapi juga untuk masa depan kami. Selain itu, beliau sebenarnya baik dan lucu lho. Beliau memang sering “merepotkan” kami dengan tugas-tugas yang banyak dan pertanyaan-pertanyaan yang sering kali dicorat-coret, tetapi seperti pepatah “Singa menjatuhkan anaknya ke jurang agar menjadi kuat”. Mungkin seperti itulah figure beliau bagi aku.

Anyway, kembali lagi ke kehidupan aku dan teman-teman saya di bedah. Mungkin jika digambarkan, inilah penampilan kami sebagai koass bedah :

  1. Rambut berantakan, jarang sisir apalagi cuci (bahkan samapai di daerah manapun juga)
  2. Jarang pake parfum apalagi mandi (biasanya abis jaga)
  3. Muka ga jauh kaya Panda, terutama matanya item :p
Kira-kira begitulah gambaran penampilan kami di bagian ini. Believe it or not, tapi entah kenapa di sini motivasi kami bisa muncul, mungkin karena dibimbing oleh dokter-dokter veteran yang mengajar penuh semangat tanpa mengenal lelah. Ada seorang dokter yang juga menjadi panutan saya, beliau sebenarnya adalah seorang dokter umum yang bertugas membimbing dan memotivasi kami para Koass di bagian bedah dan beliau pun sudah cukup berumur dinilai dari inspeksi sekilas. Beliau tanpa lelah membantu, mengarahkan dan membela kami semua para KOASS (Kumpulan Orang Serba Salah) ini. (maaf dan terima kasih ya, Dok, I'm really appreciate it)

Okay, back in action. Hal yang luar biasa bagi aku pribadi adalah hari pertama di bagian bedah ini, dimana terasa bagai sudah melewati stase bedah selama 1 minggu (it's true 2x). Mungkin tidak heran bahwa di semua bagian Mayor, hari ke-1 hingga minggu pertama adalah hari-hari paling berat untuk dilewati. Kita di sini dituntut untuk beradaptasi dan belajar untuk sudah bisa dalam menangani kasus-kasus yang ada.

Hari itu, kami semua datang pukul 1/2 4 pagi untuk sweeping pasien ke seluruh ruangan. Tiap orang dari kami dibagi kebeberapa ruangan dan tempat, aku waktu itu dapat di ICU, PICU, NICU. Pikirku, beruntung sekali mendapatkan tiga tempat itu, karena itu ada dalam 1 lantai dan jarang sekali pasien anak-anak atau balita yang masuk intensive care. Tapi ternyata aku salah. Mungkin benar adanya pasien di sini sedikit, tapi ternyata Rekam Medis mereka sungguh tebal-tebal (mungkin setebal dorland), sampai aku cape buat nulis semua status untuk dilaporkan dan ironisnya lagi, semua memiliki foto rontgen entah itu kepala, badan bahkan sampai ekstremitas sekalipun. Pasien anak-anak yang masuk pun tidak kalah hebatnya, ada yang bekas terkena Combustio (luka bakar-red) sampai yang mengarah ke diagnosis NEC (Necrotizing Enterocolitis). Waktu itu aku menghabiskan waktu hampir 2,5 jam untuk menulis semua status (T_T).

Hal yang paling ironis adalah ketika teman aku (saat itu menjadi senior di bedah karena masuk lebih dulu) mengirim bbm berisikan :

"Maw, klo pasien-pasien di ICU, PICU, NICU klo pindahan ga usah dilaporin"
"Kebanyakan pindahan dari ruangan ko"
"Kecuali yang baru masuk ya."
"PING!!!"
"Tes?Tis?Maw"

Alasan aku ga membalas bukan karena sibuk mencatat, tetapi lebih ke SHOCK karena sudah selesai menulis semua status untuk dilaporkan dan mau membawa semua foto rontgen (yang dari 1 pasien saja ada 2-3) ke Morning Report. Bisa dibayangkan sisi jahat aku sedang tertawa karena sebelumnya nyuruh jangan tulis semua pasien yang masuk ke sana. Tapi untunglah Morning Report pertama kami berakhir dengan baik.

Selanjutnya, kehidupan kami pun berlanjut ke preceptor (konsulen-red) yang akan membimbing kami selama 1 minggu ini. Kami mendapat seorang perceptor dokter bedah yang masih terhitung muda (walau sudah senior juga sih), Unique-nya dosen kami ini adalah beliau SANGAT AMAT PINTAR SEKALI!!! Hal pertama yang beliau ajarkan (dan selalu diajarkan) adalah memasukkan logika pada teori yang telah kami pelajari. Tapi, sayangnya logika kami tidak bisa mencapai logika beliau (maaf ya, Dok). Hal kedua adalah persamaan yang hampir dimiliki oleh semua dosen di bagian mana pun, yaitu JALANNYA CEPAT (entah kenapa aku selalu merasa apa dosen-dosen itu memakai sepatu yang ada rodanya di telapak kaki?).

Hal yang paling aku senangi dari dosen kami ini adalah, selain mengajarkan teori kedokteran pada kami, beliau juga seringkali memberikan ceramah-ceramah rohani yang tidak menyudutkan salah satu agama serta pentingnya hubungan pasien dan dokter yang kita sebut sebagai Informed Consent. Sejujurnya, saat kelak mejadi dokter, aku ingin sekali mencontoh beliau dan saat itu langsung menjadikan beliau sebagai public figure buat diri sendiri.

Hari pun mulai berpindah dari matahari di atas kepala mulai mengarah ke barat, tanda hari menjelang sore. bagi kami pun, itu adalah tanda saatnya kami berjaga malam dan untuk Koass bedah, lokasi jaga malam adalah di Instalasi Gawat Darurat. Sebelumnya kami pun harus sweeping kembali ke seluruh ruangan untuk melaporkan pasien-pasien yang ada pada Boss kami yang Awesome itu (I really meant it, people, he's Awesome). gambaran pertama jaga IGD bagi kebanyakan orang adalah ruang berbentuk persegi panjang berukuran cukup besar untuk menampung beberapa pasien dan diisi oleh para Dokter jaga IGD, Perawat IGD dan para Koass jaga malam. Disinilah kami bahu-membahu menyelamatkan nyawa pasien yang datang (walau kebanyakan tidak berbahaya dan rawat jalan sih, hehehehe)

Malam itu, entah kenapa tercampur perasaan exciting dan menegangkan (padahal di IPD, udah pernah). Saat itu kami menunggu di counter jaga, berharap mendapatkan pasien untuk kami mempertajam diagnosis dan tindakan-tindakan yang sudah kami latih seperti Membersihkan luka, Menjahit, atau memasang IV-line dan kateter urine. Tetapi saat itu, jauh dari harapan kami, entah kenapa pasien yang masuk lebih ke penyakit dalam dan pasien anak. Kasus bedah yang kami dapatkan hanya berkisar (dari yang paling sering) Jatuh dari motor, Jatuh dari tangga, dan keJatuhan sesuatu (semuanya berhubungan dengan JATUH) dan kami hanya perlu membersihkan lukanya serta menyuntik vaksin tetanus sebagai prosedur tetap.

Sejujurnya perasaan kecewa ada dalam diri kami, tapi tidak kurang juga perasaan bersyukur karena tidak perlu memeriksa pasien yang berhubungan dengan nyawa. Suasana pun kami anggap tenang hingga pukul 9 malam sampai salah seorang teman kami berkata hal yang tabu dikatakan di IGD (dan juga forensik) yaitu

"Aduuuh, Boseeeen ya ga ada pasien!!!! Seneng kalau IGD sepi begini,hehehehe" (yang diwarnai adalah kata tabu)

Beberapa saat setelah kata itu terkumandang, Voilla!!! Terjadi sebuah kecelakaan di Taman kota dekat Rumah Sakit kami berada ini. Sebuah angkot terguling saat sedang berbelok dengan kecepatan cukup tinggi. Pasien yang datang ada yang mulai dari luka lecet hingga luka robek dan semua penumpang (supirnya juga) dibawa ke rumah sakit kami. belum cukup arus pertama datang, arus kedua pun hadir menerpa. Sebuah motor tertabrak mobil dan pasien mendapati multiple fracture di beberapa tempat bahkan ada yang merupakan open fracture. Arus pasien pun kemudian menerpa tiada henti bagaikan suatu hukuman Tuhan kepada kami yang berleha-leha di IGD ini (maaf, lebay dikit) hingga akhirnya jam pun menunjukkan pukul 3 pagi keesokan harinya.

Entah apakah harus senang karena arus pasien berhenti atau sedih karena sudah berganti hari dan kami belum tidur sama sekali, yang jelas kami sudah harus memulai rutinitas kami kembali seperti awal hari ini hingga sore menjelang dan kami baru boleh pulang. Kira-kira itulah gambaran hari pertama kami di bedah dan aku pun menikmatinya walau cape,hehehe.

Masa Koass memang paling berat, tapi disanalah banyak kenangan tak tergantikan yang bisa kita dapat. Jangan segan-segan kirim cerita-cerita menarik kalian di Rumah Sakit baik hal-hal lucu, romantis atau bahkan cerita hantu sekalipun ke phemaw.adit@gmail.com. Cerita yang dikirim akan diedit sesuai keperluan agar tidak merugikan orang-orang tertentu.

So...that's my story...how about you?
(maaf dr.Ferdiriva, pinjem kata-katanya)

Jumat, 08 Oktober 2010

My Story in Skin & Venereal Disease

Pertama-tama saya tekankan, cerita ini memang fakta belaka, tapi kesamaan nama, tempat dan waktu hanyalah kebetulan semata.

Sabtu, 2 Oktober 20xx, siang itu peluh mengalir di sekujur tubuh kami bertujuh. Kami semua berdiri tegak menunggu keputusan yang menentukan akhir stase kami di bagian kulit dan kelamin ini. Terlihat seorang dokter laki-laki sedang melipat-lipat kertas sambil kami kelilingi beliau menunggu dengan cemas. Ya, inilah waktunya kami membagi penguji untuk akhir stase kulit dan kelamin ini. Hidup itu adalah pilihan, jadi siapapun menurut saya tidak masalah bukan (walau sebenarnya berharap dr. F sebagai penguji, hahahaha). Dokter pembimbing kami pun akhirnya menjatuhkan kertas-kertas itu ke mejanya, dan kami setengah berebutan menyambut kertas tersebut dan membukanya dengan penuh harapan. (mungkin ini yang namanya "dikocok-kocok, tegang, keluar putih-putih")

"Inisial DP, hm....baiklah mari kita cari RI*(rahasia intern)-nya," pikirku dalam hati.
*RI adalah sebuah catatan yang dibuat koass-koass sebelumnya berisi kumpulan pertanyaan dari dokter yang bersangkutan. Umumnya soal ujian pertanyaanya tidak jauh dari sana.

Minggu, 3 Oktober 20xx, Perasaan malas menghampiriku. Sebuah (atau seorang) setan yang bernama malas selalu mengganggu tak kala saya membuka sehalaman buku. Beruntunglah saat itu aku mempunyai malaikat (pacar-red)-ku sendiri, sehingga setan pun kalah oleh dukungan dia kepadaku. Sebagai hadiah, pacarku memberikan sebarek pertanyaan dari dokter pengujiku, hahahaha.

Senin, 4 Oktober 20xx, hari "pembantaian" pun tiba. Saatnya kami semua mengikuti dokter yang bertugas di poliklinik kulit untuk meminta pasien ujian. Tiba-tiba, Tuhan berkehendak lain, seorang dokter berparas cantik bagai artis film Korea (kita sebut dr.Lin) menghampiri dokter pembimbing kami dan memberi tahu bahwa salah seorang dokter senior tidak menguji lagi. Kilat pun menyambar di siang hari (eh, masih pagi deng), kecuali yang diuji oleh dr.F semua diundi kembali dan saya pun mendadak dapat dr. Lin yang sama sekali aku belum pernah liat ada RI-nya. Apa boleh buat, inilah permainan kehidupan, aku pun akhirnya mengikuti dr.Lin yang cantik ini untuk mencari pasien.

Kronologis mencari pasien saat itu ; (kami = aku dan dr.Lin)
  • Pasien pertama = Dermatitis Atopik --> kami saling berpandangan dan setuju menolak
  • Pasien kedua = Acne Vulgaris --> ditolak oleh dr.Lin, kecuali klo ada lagi (saya juga telat jawab iya sih)
  • Pasien ketiga = Scabies* --> akhirnya, Disease Of Choice (DOC)
*Sayangnya anaknya yang disuruh jadi pasien ujian (T_T), soalnya rada susah dosis anak-anak, hiks....

Aku pun akhirnya melakukan anamnesis, inspeksi dan palpasi, lanjut pemeriksaan selopan (sebuah pemeriksaan dengan cara menempelkan isolasi ke lesi di pasien kemudian mencari tungau pada isolasi tersebut di bawah mikroskop). Selanjutnya aku pun membuat status ujian dan kemudian menunggu dr.Lin selesai memberi bimbingan pada anak-anaknya. Untung sang dokter cantik memending ujiannya menjadi besok. Thanks, doc! Hehehehehe

Selasa, 5 Oktober 20xx, harap-harap cemas menunggu panggilan dr. Lin. Aku khawatir beliau tidak jadi menguji lagi karena pasiennya sangaaat banyak. Mungkin karena sudah jadi dokter kulit, cantik pula, pasien pun percaya, hahahaha. Tiba-tiba pukul 12.00 PM telefon pun berbunyi dan aku mengangkatnya berharap dr. Lin. =)

dr.Lin : Halo, ini siapa ya? --> aku langsung tahu ini dr.Lin
P : Ini, Adhit, Dok
dr.Lin : Dit, kamu ujian sekarang ya, ke atas sekarang ya
P : Oh, baik, Dok, terima kasih (tanpa sadar bilang terima kasih, dokternya ketawa)

Aku pun kemudian naik dan masuk ke ruang pemeriksaan dr. Lin untuk ujian, dan kata pertama yang dia bilang adalah, "Dit, klo nulis nama pasien pake inisial aja ya, ga enak klo kebaca." dan dilanjutkan dengan pertanyaan, "Kamu udah lewat apa aja, Dit?" (hati-hati!!bisa merupakan pertanyaan menjebak yang menentukan tingkat kesulitan ujian). tapi entah kenapa aku gak bisa berbohong dan malah berkata yang sebenarnya, hahahaha.

Ujian pun dimulai, ini kronologisnya :

Akhirnya ujian pun dimulai....

Ujian dimulai seperti biasa, dimana dokter akan mempertanyakan status dan pemeriksaan yang kita lakukan kemudian kita mempertanggungjawabkan apa yang kita tulis. Pada awalnya dr. Lin yang cantik jelita ini menanyai aku pertanyaan-pertanyaan standard seputar :

1. Diagnosis kamu apa?
2. Kenapa kamu diagnosis itu?
3. Kira-kira Diagnosis Bandingnya apa ya?

Ada beberapa pertanyaan yang tak jua dapat kujawab karena minimnya textbook yang aku punya (walau padahal klo banyak juga ga akan dibaca,,,hahahaha). Berhubung sang dokter cantik ini rajin membimbing anak-anaknya, ujianku pun akhirnya BERSAMBUNG, dan pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab dijadikan tugas untuk keesokan harinya. Lumayanlah untuk hari pertama ini, aku bisa hampir 70%-nya ditambah asyik ngeliat wajah dokter cantik (lho?).

Rabu, 6 Oktober 20xx, ujian kedua pun dimulai lagi...tepatnya jam 09.00 AM, telepon sudah berbunyi memanggil sang ksatria ini untuk kembali diuji oleh sang baginda ratu. Tiba-tiba....Sesampainya aku di atas, oleh perawat-perawat disuruh langsung masuk ke ruangan Sang Ratu dan ketika masuk, kudapati sebuah kertas bertuliskan "Dit, saya ada rapat mendadak nih...kamu udah saya siapin soal-soal di kertas, kamu kerjain ya ;) Tugas jangan lupa ditaruh saja di meja saya ya..." "With Love, dr.Lin"

....
.....
......

Oke, yang "With Love, dr.Lin" itu gw karang sendiri tapi yang laennya bener...Sejujurnya tentu gw syok, karena ternyata hari ini ujian tulisan dan ujian lisan akan berlanjut di hari esoknya,,,hahahahaha...Koass-koass, emang udah nasibnya harus nurut aja ya....baiklah dengan semangat aku pun mengerjakan soal itu, antara lain :

1. Sebukan apa itu Morbus Hansen dan penatalaksanaannya!
2. Sebutkan Definisi, etiologi dan penatalaksanaan Infeksi Menular Seksual secara lengkap!

Oke, 2 soal yang cukup sulit untuk aku kerjakan karena sering ketuker-tuker nih obatnya, jadi aku kerjakan sebisaku. Siyalnya, pulpen yang aku pake ternyata tintanya habis....dan karena bingung akhirnya spontan aku lari ke bawah buah mengambil pulpen, hahahaha...Males sih karena harus turun 2 lantai. Sesampainya di bawah, komentar Dokter pembimbingku hanya satu : "Dit, kamu masih ujiaan toh? Lama banget,,,Hahahahahha". Awalnya aku bingung kenapa beliau begitu, ternyata dibalik tubuh tegapnya, teman-temanku sudah berhura-hura karena ujian mereka sudah beres SEMUA!!! Padahal aku agaknya penguji 1 pun belum beres betul. Tapi ya sudahlah, demi bangsa dan negara aku pun maju.

Soal demi soal (padahal cuma 2 soal) ku kerjakan dengan sungguh-sungguh. Tapi tetep aja yang namanya Koass juga manusia dan bukan spesialis, ada beberapa yang aku kerjakan seadaanya. Spontan sih takut karena kayanya bakal nilai pas-pasan (wong cuma 2 soal boo), TIBA-TIBA, ada tulisan yang bertumpuk di kertas soal, kubalik dan kubaca, ternyata tulisannya adalah "Dit, kamu kerjain sebisanya aja ya...tar bikin lagi yang bagusnya di rumah...tenang ga masuk nilai ko." Doeeeeng!!! Lucu nian pengujiku ini, tapi ya apa boleh buat deh, untung cantik. Akan tetapi perasaan antara sedih, senang, letih, lesu, dan rindu akan pacar (lho?) bercampur aduk.

Kamis, 7 Oktober 20xx, ujianku pun berlanjut dan pertanyaan semua berasal dari tugas yang kubuat itu, tapi yang bikin tragis adalah, Sang Ratu berkata, "Dit, ternyata saya ga jadi penguji 1, tapi 2....", dan aku hanya bisa shock, berusaha tenang aku pun kembali bertanya "Penguji 1 saya siapa dong, Dok?, " Oh iya, penguji 1 kamu dr. DP," DOEEENGG Again!!! tragis saya ga baca RI dia tapi ya udahlah pengen cepet selesai, yang penting jangan salah bicara sama beliau (nanti kamu akan mengerti maksudnya). Pukul 12.30 PM pun aku ke atas untuk diuji dr.DP

Sesampainya di atas :
P : Permisi, Dok
dr.DP : Ya, Adit ya...dr.Lin udah cerita tuh tentang kamu
(terus beliau kaya berpikir lalu ketawa, entah apa yang diceritain aku tak tahu lho)
dr. DP : Ya udh, ditanya apa aja kamu, Dit?
P : Oh, Morbus Hansen ma IMS, Dok* (doeeeng)
*Ya inilah yang dimaksud salah bicara, karena beliau sangat ahli dan seneng banget ma 2 materi ini
dr. DP : Wah, klo gitu kamu udah bisa dong...sip deh klo gitu (tersenyum kemenangan)
P : ........... (keringat sudah bercucuran)

Tapi untunglah ternyata beliau hanya bertanya seputar penyakit aku saja yaitu Scabies dan tidak bertanya yang lain. Aku pun keluar dan bagaikan pemain sepak bola yang telah mencetak gol, aku berlari melambai kepada para pendukungku di bawah (teman-teman-red).

Akhirnya, Hari itu, kamis 7 Oktober 20xx, ujian dan stase-ku di kulit dan kelamin (officialy) berakhir dan aku pun bisa kembali bermain bersama teman-teman dan pacar, hahahaha. Hari-hari ujianku di kulit memang berat, tapi untunglah berakhir dengan baik. Walau sulit tapi itu merupakan kenangan yang tak tergantikan dalam masa Koass ini. Diulang? maaf saja deh enggak kalau itu sih, hahahahaha.

Begitulah kiranya cerita yang ingin saya bagi kepada para pembaca, dan lain waktu akan saya ceritakan hal lain seputar saya di bagian lain. Jangan segan-segan kirim cerita-cerita menarik kalian di Rumah Sakit baik hal-hal lucu, romantis atau bahkan cerita hantu sekalipun ke phemaw.adit@gmail.com. Cerita yang dikirim akan diedit sesuai keperluan agar tidak merugikan orang-orang tertentu.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Nobody's Perfect

Holla semuanya, sebut saja saya sebagai Banar. Setelah baca beberapa cerita di sini (yang kebetulan masih dikit ya, Boss?), saya juga tertarik berbagi pengalaman saya akan seorang teman saya bernama Joseph (bukan nama sebenarnya-red). Semoga cerita ini bisa bermanfaat bagi kita semua yang membacanya. Enjoy!!! :)

PS : Sebelum memulai cerita ini, ada satu pesan yang ingin para pembaca ingat dan camkan dalam hati, yaitu :

"Kalau kita yakin bahwa ada orang yang akan selalu percaya pada kita, mungkin tidak akan banyak orang yang melakukan kejahatan" (Saya kutip dari salah satu komik favorit saya)

Aku dan Joseph berasal dari sebuah Universitas terkemuka di kota yang saat ini sedang ramai dengan hujan (walau kayanya sekarang lebih cocok buat Bandung dan Jakarta ya,hehe). Saya pertama kali bertemu dengannya adalah saat upacara penerimaan mahasiswa baru (semacam inagurasi). Saya dan dia menjadi perwakilan mahasiswa baru diangkatan kami. Mengapa harus kami? Karena dari gossip yang terdengar, kami berdua memiliki nilai paling bagus saat pelaksanaan ujian masuk dimana dia menduduki peringkat pertama dan saya di peringkat kedua. Selain itu, selama masa OSPEK, kami berdua adalah kadet-kadet yang paling taat dan selalu mengerjakan tugas kami dengan baik sebagai ketua kelompok masing-masing (bukan nyombongin ya, tapi beginilah kata senior kami, haha).

Sebagai perwakilan dari mahasiswa angkatan baru, tentu kami harus saling mengenal satu sama lain, karena mungkin saya atau dia bisa menjadi ketua angkatan dan wakilnya. Jika pusat hancur tentu semua akan berantakan bukan? Setelah berkenalan dengan Joseph, saya pun mengetahui kalau dia adalah anak yang sopan, pintar dan rajin dalam bekerja. Saya rasa tidaklah heran jika dia menjadi ketua angkatan dan saya pun rela menjadi wakil dari ketua yang seperti ini.

Waktu pun berselang, entah kenapa di angkatan kami belum juga tertunjuk ketua angkatan selama 2 Bulan kami masuk. Ada beberapa orang yang mendukung saya dan sisanya mendukung Joseph. Memang sebelumnya saya bilang rela jika Joseph menjadi ketua, akan tetapi, entah kenapa harga diri saya saat itu tidak mengizinkannya untuk kalah begitu saja (mohon maaf karena sebelumnya saya selalu di"atas", jadi sedikit post power syndrome).

Dalam menjalani kehidupan di Fakultas Kedokteran, kami berdua pun saling bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik. Dalam bidang Anatomi, Faal, Histologi, Patologi dan Skill Klinik kami sama baiknya dan tak jarang mendapat nilai yang bagus. Entah sejak kapan, hubungan persaingan itu pun berkembang menjadi hubungan yang erat, baik sebagai saingan maupun sebagai sahabat.

Pada suatu hari, saya diundang untuk ke rumahnya, dan ternyata dia tinggal di sebuah mansion besar yang sangat luar biasa membuat mulutku menganga lebar (maklum saya keluarga biasa dan saat itu tinggal di kost-kostan). Di dalam rumahnya yang besar, terpampang beberapa foto hasil lukisan yang terdiri dari dirinya dan keluarganya. Sangat menyenangkan sekali saat itu melihat ekspresi di foto keluarga mereka yang tersenyum lepas tanpa beban dan menggambarkan keluarga yang sangat hangat. Akan tetapi, saat masuk ke ruang tamu, ada satu lukisan yang langsung membuatku heran dan bertanya-tanya. Sebuah foto lukisan ibunya yang besar terpampang di tengah ruang tamu. Parasnya sangat cantik, seorang campuran bangsa Indonesia dan Belanda. Di saat aku sedang mengamati foto itu dengan seksama, Joseph kemudian memulai pembicaraan :

"Kenapa, Nar? Kamu ko kaya heran sih ngeliat foto ibuku?", tanya Joseph
"Eh?Engga...Aku hanya heran saja kenapa foto ini dipajang di ruang tengah tanpa ada foto-foto lain dan ukurannya juga besar sekali ya? Pasti ayahmu sangat mencintai ibumu,hehehe.", jawabku santai.
"Oh, itu memang foto ibuku, tapi saat ini sudah senjadi almarhumah....Jadi kamu jangan heran ya", jawab Joseph diikuti nada yang terlihat sedih.
"Eh, Astagfirullah...aku minta maaf ya nanya sesuatu yang buat kamu ga enak...Turut berduka, kenapa bisa?", tanyaku lagi. (jujur saat itu saya sudah ga enak, tapi masih penasaran)
"Oh, ga apa-apa ko...tapi mending kita ganti topik aja ya...gimana kalau kita main catur, Nar?", jawab Joseph berusaha mengalihkan.
"Oke, siap ya kamu buat kalah lagi!!", jawabku penuh semangat (saat itu saya ga berani tanya lebih jauh, takut buat dia tersinggung)

Malam harinya di kostanku, akhirnya kedatangan tamu yaitu ayah-ibuku yang datang menjenguk dan mengajak makan di luar (sumpah seneng banget, namanya juga derita anak kost). Kami akhirnya memilih salah satu tempat steak terenak di kota ini dan saya pun menceritakan apa saja yang telah saya alami selama ini untuk melepas kangen dengan ayah-ibu saya. Ceritaku berputar mengenai Joseph sahabat karibku itu yang ternyata Ayahnya adalah teman baik ayahku di Jakarta (lucu ya bisa kebetulan begitu). Akan tetapi, di saat itulah saya tahu kenyataan kenapa Joseph tidak mau bercerita tentang ibunya. Ayahku adalah seorang polisi dan ternyata keluarga Joseph berasal dari Jakarta juga (pantas logatnya tampak tidak asing). Saat keluarga Joseph tinggal di Jakarta 1 tahun yang lalu, ibunya meninggal akibat serangan jantung saat diserempet oleh mobil yang menyetir ugal-ugalan di malam hari. Kenapa Joseph tak mau cerita? karena ini semua berhubungan dengan apa yang akan terjadi selanjutnya pada hidupnya selama ini.

Ayah Joseph adalah seorang dokter penyakit dalam terkemuka, setelah insiden yang terjadi pada istrinya, beliau yang tadinya baik berubah menjadi cenderung menutup diri dan sering menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa menyelamatkan sang Istri. Setelah kejadian itu, ayahnya berpendapat bahwa "Tidaklah cukup seorang dokter kalau tidak saling melengkapi", sehingga Joseph dituntutnya untuk menjadi dokter spesialis bedah jantung (mungkin untuk mengobati rasa bersalahnya). Demi mencapai keinginannya itu, dia bahkan selalu memarahi dan memukuli Joseph jika dia gagal dalam suatu ujian (jangan ditiru ya, Bu, Pak). Sungguh suatu cerita yang tragis mengingat Joseph selalu berusaha tersenyum di depan teman-temannya seakan tidak memiliki beban di pundaknya. Saat itu saya bersumpah apapun yang terjadi, saya akan terus bersahabat dengan Joseph.

Waktu pun berselang, saya dan Joseph akhirnya lulus dari masa perkuliahan dan memulai masuk ke jenjang yang lebih tinggi lagi yaitu dunia perKOASSan. Alhamdulillah kami berdua lulus dengan predikat cum laude (klo ga salah tulis). Ini sudah merupakan awal yang baik buat kami berdua untuk menjalani jenjang yang lebih tinggi dan kami pun tak sabar untuk segera masuk.

Ternyata kehidupan di koass sama sekali berbeda dari apa yang kami bayangkan. Di sini dibandingkan kami mendapat ilmu, kami lebih mirip sebagai pembantu untuk dokter senior (ga apa-apa sih sekalian belajar) dan suster. Kepada dokter senior tentu kami tidak protes, tapi pada suster?? Kami dipekerjakan bagai rodi sementara mereka asyik menelpon pacar atau berleha-leha (entah mau balas dendam atau memang sudah tradisi dari dulu). Kehidupan di sini pun jauh lebih menyeramkan daripada yang kami bayangkan. Terkadang teori tidak selalu sesuai dengan praktek. Saya pun entah sudah beberapa kali berteriak dalam hati saat melakukan tindakan.

Diantara kami semua, hanya satu orang yang bisa melaksanakan semua hal di atas dengan baik dan tetap tersenyum. Dia adalah Joseph. Dokter-dokter menyukainya karena selain pintar, dia bekerja dengan logika dan cepat tanggap akan sesuatu. Hubungan dengan suster pun sangat baik (lagipula sebagai laki-laki dia terhitung berwajah tampan). Mungkin hampir tidak ada masalah apabila kamu satu bagian dengannya sekalipun ada masalah, semuanya dapat ia atasi dengan baik.

Dua bulan pun berselang, hari inilah hari dimana inti cerita ini berada. Kami (saya dan Joseph) secara kebetulan berada dalam bagian Obstetri dan Ginekologi. Selama kami berdua berduet, tidak pernah ada masalah yang terjadi di bagian ini. Saya dan Joseph pun mendapat perhatian dari para konsulen. Akan tetapi, kami tidak sadar bahwa ada senior-senior dan teman-teman yang iri akan keberhasilan kami.

Seorang pasien dengan PEB (Preeklamsia berat, dimana ibu hamil menderita tekanan darah tinggi saat kehamilan dan harus diobservasi ketat karena berbahaya bagi ibu dan janin). dipegang oleh Joseph sejak 2 hari yang lalu. Joseph tidak pernah luput untuk mengobservasi pasien ini karena dia tahu akan bahayanya. Akan tetapi, malam itu, malam dimana Joseph sedang tidak jaga malam, dia pun mengoperkan status pasiennya kepada seorang senior yang menurut dia bisa ia percaya dan meninggalkannya dengan harapan tidak ada apa-apa hingga besok pagi dia datang. Masalah akhirnya timbul saat malam hari, dimana Sang Senior pergi makan keluar Rumah Sakit dan pasien yang bersangkutan mengalami Eklamsia (bentuk yang lebih berat dimana pasien kejang-kejang dan harus segera ditangani) hingga akhirnya tidak berhasil ditangani karena terlambat penanganan dan rujukan ke konsulen. Pasien pun kemudian akhirnya meninggal dunia beserta bayi yang dikandungnya. Pihak keluarga pun menuntut ke Rumah Sakit dan mau membawa ke pengadilan.

Perlu saya tekankan bahwa perkumpulan dokter adalah suatu hal yang cukup menakutkan. Sekali kita terperangkap masuk di dalamnya, tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan. Apabila ada seseorang bilang "hitam" maka "hitam"lah yang akan dilakukan. Sungguh mengerikan jika kita sudah tercap "hitam" di organisasi tersebut.

Satu hari setelah kejadian, terjadilah rapat besar di bagian kami untuk membicarakan kronologis bagaimana cerita ini berlanjut. Satu hal yang luput dari kami adalah, senior yang Joseph titipi ternyata memiliki dendam pribadi kepada Joseph dan berusaha memfitnahnya. Saat konsulen kami menanyakan kejadiannya, entah kenapa semua orang yang berniat jahat pada Joseph dapat berkumpul secepat itu dan memfitnahnya sebagai pelaku kasus ini. Joseph tentu tidak terima karena saat itu dia sedang jaga malam, akan tetapi, entah kenapa nama orang yang jaga malam di hari itu berubah menjadi namanya dan bukan nama sang Senior. Konsulen pun mulai tampak marah melihat Joseph berusaha membela dirinya. Hal yang kemudian terjadilah yang membuat saya malu sampai sekarang dan bahkan tidak bisa memaafkan diri saya sendiri. Sebagai pembelaan terakhir, Joseph berkata pada semua bahwa dia malam itu memang tidak jaga dan sedang belajar bersama di rumah saya. Saat itu semua mata tertuju pada saya, mengharapkan jawaban sambil melihat saya dengan tatapan seakan pemburu hendak menerkam mangsanya. Dan coba kalian tebak, saya bilang bahwa itu TIDAK BENAR!!!. Saya pun melihat betapa kecewanya Joseph dengan jawaban saya itu.

Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya bisa membela Joseph dan tidak membelanya. Akan tetapi, ketakutan saya akan dikucilkan dari organisasi dan merusak masa depan hidup saya mengalahkan segalanya. Bagi seseorang yang membantu orang yang dikucilkan oleh masyarakatnya, hanya ada satu pilihan, yaitu jatuh ke jurang yang sama. Karena tindakanku inilah akhirnya Joseph dikeluarkan dan dikucilkan dari dunia kedokteran oleh komunitas. Tidak lama setelah peristiwa itu, Joseph pun entah pindah entah kemana dan tidak pernah terdengar kabarnya lagi.

Inilah mengapa judulnya ada "tidak ada orang yang sempurna". Sebagaimana pun manusia berusaha untuk menjadi perfect, tetap saja pada akhirnya akan ada belang di tubuhnya. Mungkin kita semua tidak menyadarinya karena kita sendiri yang berperan sebagai pelakunya, tapi cobalah mulai sekarang menginstrospeksi diri kita sembelum belang kita terlihat oleh orang lain.

NB : Jika Joseph membaca tulisan ini, saya sangat ingin meminta maaf sebesar-besarnya pada dirinya. Saat ini saya hanya bisa berharap dan berdoa yang terbaik untuk Joseph dimanapun dan apapun yang dia sedang lakukan sekarang.

Dari Seseorang Yang Masih Ingin Menjadi Sahabatmu

Someone to Remember Part 2

Hello, masih dengan Jacky di sini. Sekarang aku akan lanjutkan ceritaku dengan Bintang. Semoga para pembaca gak bosen ya buat bacanya, hehehehe...

The Truth

Cerita kedua ini berawal dari aku mengajak Bintang untuk pergi nonton. Pada waktu itu, Bintang setuju untuk pergi nonton, tapi dia bilang hal yang membuat perasaan ku tidak enak :

“Aku ajak si Anna ma temennya juga ya, soalnya mereka juga mau nonton tuh.”

Tapi apa boleh dikata, susah untuk menolak keinginan sang pujaan hati kalau kita lagi deket-deketnya dan Bintang pun selalu punya cara agar aku berkata “iya” (tapi ga selamanya juga sih, hehehehe). Setelah menunggu Bintang mengonfirmasi ke Anna, akhirnya didapatkan suatu keputusan yaitu ANNA GA JADI IKUT!!!TAPI TEMENNYA TETEP IKUT. Para pembaca mungkin sudah mengerti kan kenapa firasatku jadi ga enak? Ya inilah maksudnya. Temennya Anna (karena ga enak, sekarang kita sebut saja dia Ari) ternyata ada gelagat-gelagat mendekati Bintang juga. Kebetulan karena aku punya insting yang terlatih dari dulu karena baca komik detektif Conan (apa coba?emang nyambung?hahahahaha), dari cara ngomongnya yang sok pamer dan cari perhatian terus ma Bintang, aku pun merasa dia punya feeling ma Bintang. Klo diinget lagi, sumpah BeTe banget ampe saat jalan-jalan pun aku malah sibuk belajar (Nah lho?aneh kan?) padahal mana pernah seorang Jacky belajar klo besoknya ga ada apa-apa. Singkat cerita karena kesel dan Bete kehilangan waktu berdua, akhinya aku pun minta diturunkan di jalan pulang di suatu tempat makan. (hal ini kebetulan berhubung ada temen-temenku yang lagi pada makan di sana, jadi ya sekalian aja kali ya?)

Dua bulan kemudian berselang, Bintang dan aku sama-sama sedang memasuki bagian yang kita sebut MAYOR karena kesibukannya dan ada tugas jaga malam (Bagian ini yang kebanyakan merenggut sebagian besar hidup seorang KOASS). Saat itu instingku bekerja lagi (cieee!!!), aku mulai merasa kejanggalan dengan Bintang karena setiap aku mengajaknya pergi jalan-jalan, dia selalu menolak dengan berbagai alesan. Karena kesal dan penatnya diriku saat itu, aku pun berpikiran untuk mendiamkan dia selama 4 hari (sebenernya sih 3 hari tapi 1 hari lagi aku sibuk,hehehe) bahkan melontarkan kata-kata yang kurang baik melalui smartphone milikku kepadanya yang terdapat kata-kata “Kasi dikit pelajaran”, dan paginya Bintang membalas dengan “Aku bukan cari-cari alesan lho.”. Saat itu aku hanya bisa think positive atas balesan Bintang dan tak mau berpikir macam-macam.

Empat hari kemudian, para junior dari almamater kami (para mahasiswa-red) ternyata mengadakan sebuah acara keakraban, dan temanku si Adhi menyuruhku untuk mengajak Bintang dan Capung kesana (sialan tuh si Adhi, nyuruh-nyuruh aku dateng tapi dia sendiri malah pacaran, hahahaha). Tapi aku sudah tahu apa jawaban Bintang, yaitu dia pasti tidak mau pergi, tapi tentunya untuk formalitas aku tetep ajak mereka dan memang DITOLAK saudara-saudara,hehehe.

Malam sebelum pergi ke acara inilah inti dari cerita ini. Bintang tiba-tiba mengirim text message pada ku yang isinya :

“Jack, aku mo cerita....tapi malu....”

Saat itu, instingku kembali mengambil alih. Perasaan tidak enak bercampur harap-harap cemas seakan menggenjot jantungku lebih kencang dari biasanya, suatu fenomena alam yang jarang terjadi (lebay mode : On). Bintang berkata "dijawab Dine". Kulihat status Dine dan hanya tertulis "homesick". Tidak mungkin kan jika Dine homesick ia jadi malu? Pasti ada hal lain yang memicu ia menjadi malu. Keesokan harinya, Bintang kembali mengirim pesan pada ku dan seakan memaksa aku untuk mencari tahu apa yang ingin ia sampaikan. Ternyata hal tersebut terjawab dengan sebuah pesan berisi :

“Jack, aku punya cowo lho...hehe...”

Sebuah mimpi yang aku alami semalam menjadi kenyataan, dan terjawab sudah semua kegelisahan hatiku semalam. Saat itu badan serta pikiranku seakan sedang ditimpa oleh sesuatu yang berat. Aku berharap saat itu aku masih tetap bermimpi dan ingin cepat-cepat terbangun dari mimpi buruk tersebut.

Hari itu, suatu hal buruk sedang terjadi padaku. Sebuah kenyataan pahit sudah terjadi dan rentetan ujian-ujian akan aku jalani pula pada hari itu. Untungnya hanya 1 ujian yang tetap terlaksana. Saat itu pun entah kenapa langit seakan sedang tidak memberi angin baik kepadaku. Teman-teman sekelompokku beberapa orang sungguh mengesalkan. Karena emosi yang kupendam dari pagi sudah sangat banyak, jangan salahkan aku ya jahat ke kalian dengan tidak memberikan kertas untuk ujian, hehehe.

Malam itu, aku hanya bisa menangis dan menitikkan air mata. Semua hal yang aku lakukan untuk menghentikannya sama sekali tidak berhasil. Sholat dan berdoa sama sekali tidak bisa menyelesaikan masalahku (maaf, melankolis sedikit). Semuanya terlalu cepat dan terlalu mengejutkan. Bantalku saat itu penuh dengan air mata dan aku pun tidak bisa tidur.

Epilogue

Esok harinya, angin masih belum berpihak kepadaku, Aku melihat Bintang di Kantin dan saat itu aku memilih untuk tidak bertemu dengannya. Hal ini aku lakukan bukan karena hendak menjauhinya, tapi jujur aku belum siap untuk bertemu dengannya langsung dan menyapanya seakan tidak ada apa-apa.

Sebuah pesan masuk ke smartphone milikku dan ternyata dari Kinam, kira-kira beginilah isi pesan dan pembicaraan kami;

“Jack, napa profile picture lu ko murung amat?”

“Gak ah, lagi males cerita.”

“Oow, kayaknya gue tau, seKOASS uda pada tahu, sabar ya Jack.”, jawab Kinam menyemangati (sumpah aku kaget karena setahuku cuma Adhi yang tahu rahasia ini)

“Huh? Cepet gitu nyebarnya?? Ada jumpa pers emang?”, tanyaku seakan tak percaya.

“Ya nggak lah, ndak pada heran sii...soalnya mereka dah deket tuh waktu stase ke luar negeri (rumah sakit mitra-red).

Whaaat??? Dalam hati aku bertanya, ternyata sudah selama itu? Apa ini yang mendasari dia berubah dan selalu menolak ajakan ku untuk pergi? Apakah kata-kata “bukan cari-cari alesan” itu hanya alibinya saja? Hari itu banyak pertanyaan dalam hatiku dan sebagian besar tidak terjawab.

“Maaf ya, aku hanya anggap kamu temen aku”, mungkin adalah kata-kata yang Bintang katakan atau simpan dalam hati. Sebenarnya jika hanya menganggapku sebagai Teman, kenapa dia tidak bilang saja? Mengapa saat itu kamu mau aku anterin makanan seorang diri di malam hari ke sebuah rumah sakit mitra yang jalannya sungguh asing buatku jika kamu hanya menganggapku sebagai seorang teman? Apa kamu sama sekali ga merasakan perasaan aku sedikit pun? Dan apa kamu tidak berpikir bahwa seorang lelaki rela mengantarkan makanan dan datang ketempat yang asing baginya padahal dia akan panik sendiri jika menyasar di malam hari tidaklah mengharapkan sesuatu balasan darimu? Padahal aku sering bilang padamu bahwa aku benar-benar takut dan panik bila pergi di malam hari ke suatu tempat yang asing seorang diri. Akan tetapi rasa sayang mengalahkan ketakutan dan kepanikanku malam itu.

Sebenarnya aku juga bersalah dalam kasus ini. Tidak mempunyai keberanian mengutarakan isi hati kepada orang yang disayangi. Akan tetapi, apakah menganggumi dan menyayangi seseorang itu salah? Sesungguhnya, tiada yang salah...hanya aku manusia bodoh sesuai dengan lirik lagu ADA BAND dengan judul lagu yang sama.

Membicarakan sebuah lirik lagu, saat itu aku jadi teringat akan sepenggal lirik lagu Abdul & The Coffeetheory berjudul proses melupakanmu yang kunyanyikan di malam itu (download sendiri aja klo mau denger lengkapnya ya, ni juga diimprovisasi dikit biar nyambung)

Senin 27 September...

Kucoba menyingkirkan...,

Semua benda kenangan yang kudapat darimu....

Selasa ku kumpulkan smua teman2ku,

Dan kubuat hari ini yang terindah bagiku...

Namun tetapku tak mampu melupakan dirimu, dan bayangmu masih saja hantui aku,

Itu lah prosesku…. Itu lah prosesku...itu lah prosesku... melupakanmu..

Rabu (kebetulan tepat hari ini) ku menunggu kabar dari dirimu.

Kamis aku mencari tapi kau ntah dimana....

Jumat aku putuskan ini hari terakhirku bagiku untuk meratapi kamu….

Akan tetapi, dibalik semua kesedihan dan penyesalanku itu, aku pun ingin memberikan rasa terima kasihku yang sebesar-besarnya untuk Bintang. Terima kasih telah memberikanku kesempatan bersama dengan orang yang terus bercahaya laksana bintang di langit. Perempuan yang telah bisa merubahku menjadi pribadi yang lebih baik dari pelit senyum menjadi murah senyum, dari emosional menjadi sedikit lebih tenang dan hal-hal lainnya yang tak bisa ku sebut satu-satu. Maaf saat ini aku belum bisa bertemu dengan dirimu, tapi aku janji jika perasaanku ini sudah kembali tenang, aku kan tersenyum seindah dirimu menyinari diriku selama ini.

END